BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Sunday, 21 February 2010

Ummu Sulaim, yang Dijamin Surga

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

يأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ اذْكُرُواْ اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً

Wahai orang-orang yang beriman, (untuk bersyukur kepada Allah) ingatlah serta sebutlah nama Allahdengan ingatan serta sebutan yang sebanyak-banyaknya;
(Al-Ahzab, (33) : 41)




Ia seorang wanita keturunan bangsawan dari kabilah Anshar suku Khazraj memiliki sifat keibuan dan berwajah manis menawan. Selain itu ia juga cerdas bersikap penuh prihatin, dan berakhlak mulia, sehingga dengan sifat-sifatnya yang istimewa itulah bapa saudaranya yang bernama Malik bin Nadhar melirik dan mempersuntingnya. Rumaisha Ummu Sulaim binti Milhan bin Khalid bin Zaid bin Malik adalah satu dari wanita sholehah yang memiliki kedudukan istimewa di mata Rasulullah.

Pada saat Rasululllah menyerukan dakwah menuju tauhid, tanpa keraguan lagi Ummu Sulaim langsung memeluk agama Islam, dan tidak peduli akan gangguan dan rintangan yang kelak akan dihadapinya dari masyarakat jahiliah.



Namun suaminya, Malik bin Nadhir sangat marah saat mengetahui isterinya telah masuk Islam. Dengan dada gemuruh karena emosi, ia berkata pada Ummu Sulaim: “Engkau kini telah terperangkap dalam kemurtadan!”



“Saya tidak murtad. Justeru saya kini telah beriman,” jawab Ummu Sulaim dengan mantap. Dan kesungguhan Ummu Sulaim memeluk agama Allah tidak hanya sampai di situ. Ia juga tanpa bosan berusaha melatih anaknya, Anas, yang masih kecil untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.



Melihat kesungguhan isterinya serta pendiriannya yang tak mungkin tergoyahkan membuat Malik bin Nadhir bosan dan tak mampu mengendalikan amarahnya. Hingga ia kemudian bertekad untuk meninggalkan rumah dan tidak akan kembali sampai isterinya mahu kembali kepada agama nenek moyang mereka. Ia pun pergi dengan wajah suram. Sayangnya, di tengah jalan ia bertemu dengan musuhnya, kemudian ia dibunuh...



Saat mendengar khabar kematian suaminya dengan ketabahan yang mengagumkan ia berkata, “Saya akan tetap menyusui Anas sampai ia tak mahu menyusu lagi, dan sekali-kali saya tak ingin menikah lagi sampai Anas menyuruhku.”



Setelah Anas agak besar, Ummu Sulaim dengan malu-malu mendatangi Rasulullah dan meminta agar beliau bersedia menerima Anas sebagai pembantunya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima Anas dengan rasa gembira. Segala apa yang telah Ummu Suaim lalui dikagumi oleh ramai orang.



Dan seorang bangsawan bernama Abu Thalhah tak luput memperhatikan hal itu. Dengan rasa cinta dan kagum yang tak dapat disembunyikan tanpa banyak pertimbangan ia langsung melangkahkan kakinya ke rumah Ummu Sulaim untuk melamarnya dan menawarkan mahar yang mahal. Namun di luar dugaan, jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa kecewanya begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan rasa hormat,“Tidak selayaknya saya menikah dengan seorang musyrik, ketahuilah wahai Abu Thalhah bahwa sesembahanmu selama ini hanyalah sebuah patung yang dipahat oleh keluarga fulan. Dan apabila engkau mahu menyuluhnya api nescaya akan membakar dan menghanguskan patung-patung itu.”



Perkataan Ummu Sulaim amat telah menghentam dadanya. Abu Thalhah tak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar. Namun itu semua merupakan realiti yang harus ia terima. Abu Thalhah bukanlah orang yang cepat putus asa. Dikarenakan cintanya yang tulus dan mendalam terhadap Ummu Sulaim, di lain kesempatan ia datang lagi menjumpai ibunda Anas dan menimbang-nimbang mahar yang lebih mahal serta kehidupan kelas atas.



Sekali lagi, Ummu Sulaim muslimah yag cerdik dan pintar ini tetap teguh dengan keimanannya. Sedikit pun ia tidak tergoda oleh kenikmatan dunia yag dijanjikan oleh Abu Thalhah. Baginya kenikmatan Islam akan lebih indah daripada seluruh kenikmatan dunia. Masih dengan penolakanya yang halus ia menjawab, “Sesungguhnya saya tidak pantas menolak orang yang seperti engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau seorang kafir dan saya seorang muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah denganmu. Coba Anda tebak apa keinginan saya?”



“Engkau menginginkan dinar dan kenikmatan,” kata Abu Thalhah. “Sedikitpun saya tidak menginginkan dinar dan kenikmatan. Yang saya inginkan hanya engkau segera memeluk agama Islam,” tukas Ummu Sualim tandas.



“Tetapi saya tidak mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?” Tanya Abu Thalhah. “tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri,” tegas Ummu Sulaim.



Maka Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam yang mana saat itu tengah duduk bersama para sahabatnya. Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berseru, “Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan cahaya Islam tampak pada kedua bola matanya.”



Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim hanya akan mahu dinikahi dengan keislamannya tanpa sedikitpun tergiur oleh kenikmatan yang dia janjikan. Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi isteri dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hinnga tanpa terasa di hadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat, “Saya mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah. Saya bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya.”



Ummu Sulaim tersenyum haru dan berpaling kepada anaknya Anas, “Bangunlah wahai Anas.”



Menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah, sedangkan maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, “Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya.” Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam.



Abu Thalhah sendiri adalah seorang bangsawan satu dari kabilah Anshar. Dan harta yang paling dia cintai yaitu tanah perkebunan “Bairuha”. Tanah perkebunan itu letaknya persis menghadap masjid. Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah minum air segar yang ada di lokasi itu, sampai kemudian turun ayat yang berbunyi:“Sekali-kali belum sampai pada kebaktian yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Ali Imran:92)



Mendengar ayat ini, segera Abu Thalhah menghadap Rasulullah. Setelah membacakan ayat tadi Abu Thalhah melanjutkan, “Dan sesungguhnya harta yang paling saya cintai adalah tanah perkebunan Bairuha. Saat ini tanah itu saya sedekahkan untuk Allah dengan harapan akan mendapatkan ganjaran kebaikan dari Allah kelak. Maka pergunakanlah sekehendak Anda, wahai Rasulullah.”



Dan bersabdalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, “Bakh, bakh itu adalah harta yang menguntungkan dan saya telah mendengar perkataanmu tentang harta itu dan saya sekarang berpendapat sebaiknya engkau bagi-bagikan tanah itu untuk keluarga kalian.”



Abu Thalhah pun menuruti perintah Rasululah dan membagi-bagikan tanah itu kepada sanak familinya dan anak keturunan pamannya. Tak berapa lama Allah memuliakan seorang anak laki-laki kepada pasangan berbahagia itu dan diberi nama Abu Umair. Suatu kali burung kesayangan Abu Umair mati sehingga Abu Umair menangis dengan sedih. Saat itu lewatlah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam di hadapannya. Melihat kesedihan Abu Umair, Rasulullah segera menghibur dan bertanya, “Wahai Abu Umair apa gerangan yang diperbuat oleh burung kecil?”



Namun takdir Allah memang tak mampu diduga. Allah subhanahu wa ta’ala kembali ingin menguji kesabaran pasangan sabar ini. Tiba-tiba saja, anak kecil mereka Abu Umair jatuh sakit sehingga ayah dan ibunya dibuat gusar dan cemas. Padahal ia adalah putra kesayangan Abu Thalhah. Jika ia pulang dari pasar, yang pertama kali ditanyakan adalah kesehatan dan keadaan putranya dan ia belum merasa tenang bila belum melihatnya. Tepat pada waktu sholat, Abu Thalhah pergi ke masjid. Tak lama setelah kepergiannya, putranya Abu Umair menghembuskan nafas terakhir.



Ummu Sulaim memang seorang ibu mukminah yang sabar. Ia menerima peristiwa itu dengan sabar dan tenang. Ummu Sulaim lantas menidurkan putranya di atas tempat tidur dan berkata berulang-ulang, “Innaa lillahi wa inna ilaihi rrji’un.” Dengan suara berbisik ia berkata kepada sanak keluarganya, “Jangan sekali-kali kalian memberitahukan perihal putranya pada Abu Thalhah sampai aku sendiri yang memberitahunya.”



Sekembalinya Abu Thalhah, alhamdulillah, air mata kesayangan Ummu Sulaim telah mengering. Ia menyambut kedatangan suaminya dan siap menjawab pertanyaannya.



“Bagaimana keadaan putraku sekarang?”



“Dia lebih tenang dari biasanya.” Jawab Ummu Sulaim dengan wajar.



Abu Thalhah merasa begitu letih hingga tak ada keinginan menengok putranya. Namun hatinya turut berbunga-bunga mengira putranya dalam keadaan sehat wal afiat. Ummu Sulaim pun menjamu suaminya dengan hidangan yang istimewa dan berdandan serta berhias dengan wangi-wangian, membuat Abu Thalhah tertarik dan mengajaknya tidur bersama.



Setelah suaminya terlelap, Ummu Sulaim memuji kepada Allah karena berhasil menenteramkan suaminya perihal putranya, karena ia menyadari Abu Thalhah telah mengalami keletihan seharian, sehingga ia membiarkan suaminya tertidur pulas.



Menjelang subuh, baru Ummu Sulaim berbicara pada suaminya, seraya bertanya, “Wahai Abu Thalhah apa pendapatmu bila ada sekelompok orang meminjamkan barang kepada tetangganya lantas ia meminta kembali haknya. Pantaskan jika si peminjam enggan mengembalikannya?”



“Tidak,” jawab Abu Thalhah.



“Bagaimana jika si peminjam enggan mengembalikannya setelah menggunakannya?” “Wah, mereka benar-benar tidak waras,” Abu Thalhah menukas.



“Demikian pula putramu. Allah meminjamkannya pada kita dan pemiliknya telah mengambilnya kembali. Relakanlah ia,” kata Ummu Sulaim dengan tenang. Pada mulanya Abu Thalhah marah dan membentak, “Kenapa baru sekarang kau beritahu, dan membiarkan aku hingga aku ternoda (berhadats karena berhubungan suami istri)?”



Dengan rasa tabah Ummu Sulaim tak henti-henti mengingatkan suaminya hingga ia kembali istirja dan memuji Allah dengan hati yang tenang.



Pagi-pagi buta sebelum cahaya matahari kelihatan penuh, Abu Thalhah menjumpai Rasulullah shollallahu ’alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian itu. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan barakah pada malam pengantin kalian berdua.”



Benar saja Ummu Sulaim lantas mengandung lagi dan melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah bin Thalhah oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dan subhanallah barakahnya ternyata tak hanya sampai di situ. Abdullah kelak di kemudian hari memiliki tujuh orang putra yang semuanya hafizhul Qur’an. Keutamaan Ummu Sulaim tidak hanya itu, Allah subhanahu wa ta’ala juga pernah menurunkan ayat untuk pasangan suami istri itu dikarenakan suatu peristiwa. Sampai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menggembirakannya dengan janji syurga dalam sabdanya



“Aku memasuki syurga dan aku mendengar jalannya seseorang. Lantas aku bertanya “Siapakah ini?” Penghuni surga spontan menjawab “Ini adalah Rumaisha binti Milhan, ibu Anas bin Malik.”

Ya Allah, Alangkah Bahagianya

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu;tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” , Q.S. Al-Maa`idah/5: 105.

Ya Allah, Alangkah Bahagianya Calon Suamiku Itu…

Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah, masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.

“Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.

“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.

“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?,” kata Rasulullah SAW.

Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”

” Asal engkau mahu, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan pembantunya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita.

Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa ke rumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”

Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kahwin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kahwin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?”

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini, bukankah lebih baik disuruh masuk?”

“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah...” dan Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mahu, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”

Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”

Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”

Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami
patuh/taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera mohon izin untuk pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?”

“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.

“Sudah ada persiapan?”

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan wang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam situasi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”

Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kahwin ini akan aku jual dan akan ku belikan kuda yang terbagus.”

Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”

Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”

Lalu Zahid membacakan ayat sebagai berikut, “Jika bapa-bapa, anak-anak,saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khautiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.

Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergembira hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS 3: 169-170).

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).

Pada saat itulah para sahabat menitiskan air mata dan Zulfah pun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”

HIKMAH
Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa menjadi renungan buat kita bahwa, “Untuk Allah di atas segalanya, mati sebagai syuhada.“ Jazakumullah.

Saturday, 23 January 2010

Apabila Melewati Kawasan Kaum Yang Pernah di Azab Allah

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga Allah menunjukki kita jalan kebenaran. Semoga kita sentiasa didalam limpahan Nur RahmatNya. Semoga Kita tidak mati melainkan didalam Iman dan Islam.












Kisah dan IktibarPerjalanan Nabi Muhammad melewati lembah berbatu

PADA ada suatu hari, Rasulullah dan para pengikutnya telah bermusafir untuk menghadapi Perang Tabuk. Sebelum meneruskan perjalanan, mereka singgah di suatu tempat untuk beristirehat.

Sambil beristirehat, para sahabat berjalan-jalan menuju ke satu longgokan batu-batan. Batu-batan itu adalah kesan peninggalan kaum Tsamud pada zaman Nabi Saleh.

Ketika melalui kawasan tersebut, mereka menjumpai beberapa buah perigi. Perigi-perigi itu pernah digunakan oleh kaum Tsamud sebagai sumber minuman dan ternakan mereka.

Lalu para sahabat mengambil air dari perigi itu untuk menghilangkan dahaga. Mereka juga menggunakan air tersebut untuk mengadun roti.

Apabila Rasulullah mengetahui tentang perkara tersebut, baginda melarang mereka menggunakan air itu. Baginda juga menyuruh para sahabat supaya membuang adunan roti itu untuk dijadikan makanan unta.

Kemudian Rasulullah mengajak pengikutnya berpindah ke perigi yang pernah digunakan oleh unta Nabi Saleh. Walau bagaimanapun, baginda melarang mereka memasuki wilayah kaum Tsamud yang telah diazab oleh Allah suatu ketika dahulu.

Baginda bersabda, "Aku khuatir kalau kamu akan ditimpa azab seperti yang pernah menimpa kaum Tsamud. Oleh itu janganlah kamu masuk ke wilayah mereka".

Baginda juga bersabda, "Jangan kamu menjejakkan kaki ke tempat orang-orang yang pernah diseksa, kecuali kamu menangis. Sekiranya kamu tidak boleh menangis, jangan sekali-kali kamu menjejakkan kaki ke sana jika tidak ingin ditimpa bencana seperti yang mereka alami".

Lalu baginda menyeru pengikut-pengikutnya supaya mengerjakan solat berjemaah.

"Kami berasa takjub dengan mereka, wahai Rasulullah," kata salah seorang sahabat apabila mereka melihat kawasan tersebut.

Lalu Rasulullah pun berkata, "Kamu mahu aku tunjukkan sesuatu yang lebih mengagumkan daripada itu?

Perkara itu ialah apabila salah seorang daripada kamu menyampaikan berita kepada kamu tentang peristiwa yang terjadi sebelum dan selepas kamu. Oleh itu, luruskan dirimu dan rapatkan barisanmu nescaya kamu tidak akan diazab walau sedikitpun kelak".

Pengikut-pengikut Rasulullah akur dengan arahan baginda dan mereka mengerjakan solat berjemaah bersama baginda.

Ada sesetengah riwayat menerangkan ketika Rasulullah melintasi kawasan tersebut, baginda menundukkan kepala dan mempercepatkan langkahnya. Ini untuk mengelakkan daripada berlakunya sebarang bencana.


Jika kita membaca sirah di atas, Rasullulah telah melarang daripada memasuki wilayah kaum yang pernah diazab oleh Allah seperti kaum Tsamud ini. Selain Kaum Tsamud, Kaum Nabi Lut juga diazab oleh Allah dengan menterbalik kan bumi. Dimana kawasan Nabi Lut itu sekarang ini?



Sejarah Kaum Nabi Lut A.SSejarah Laut Mati bermula pada zaman Nabi Lut apabila mereka melakukan beberapa kerosakan di muka bumi. Mereka dicela akibat beberapa perlakuan yang melanggar syariat seperti homosexual, melakukan seks sesama lelaki, merompak dan membunuh. Bagaimanapun, kaum Nabi Lut ini lebih terkenal dengan sejarah homosexual. Klimaks kemurkaan Allah terhadap kaum ini bermula apabila Allah menghantar Malaikat yang menyamar sebagai seorang lelaki yang tampan. yang tinggal bersama Nabi Lut. Apabila mereka mengetahui tetang kehadiran lelaki tampan ini, mereka bergegas ke rumah Nabi Lut dan merogol lelaki ini. Malaikat telah diarah untuk menterbalikkan kawasan tempat tinggal mereka ke bawah. Bagaimanapun, pengikut Nabi Lut telah diselamatkan dari malapetaka ini.

Sejarah Laut Mati boleh juga dilihat di dalam Surah Ar-Rum di dalam Al-Quranul karim.

Semoga kita mendapat iktibar daripada malapetaka yg menimpa Kaum Nabi Lut supaya menjauhkan diri daripada melakukan kemaksiatan yg sama...

Wa na'uzubillah min Zalik



FaktaL aut Mati (bahasa Ibrani: ים המלח; bahasa Arab: البحر الميت‎) merupakan kawasan paling rendah di dunia yang tidak dilitupi ais, serendah 418 m di bawah aras laut, dan juga tasik masin yang terdalam, sedalam 330 m. ia juga merupakan laut termasin di dunia, dengan kemasinan hampir 30 %. Ini lebih kurang 8.6 kali lebih masin dari laut biasa. Oleh kerana itu tiada satu pun hidupan yang boleh hidup di dalamnya.

Tasik atau laut ini terletak di sempadan Jordan dan Tebing Barat. Panjangnya 67 km dan 18 km paling lebar. Cawang sungai utamanya ialah Sungai Jordan.


Namun hakikatnya terbalik,apa yang dilarang itulah yang dilakukan. Hari ini, berapa ramai yang suka berkunjung di Laut Mati? Siap melancong dan mandi manda. Kalau melancong tu,bermakna memang niat untuk berziarah, bukan terpaksa melalui untuk menuju kesesuatu tempat seperti zaman Rasullulah terpaksa melalui kerana berperang.

Selain itu ada pula sekarang produk kecantikan 'sabun lumpur Laut Mati' dan 'masker lumpur Laut Mati'. Ini semua secara halus menentang apa yang Rasullulah larang. Maka apa akibatnya melanggar perkara yang dilarang oleh Rasullulah? Kita tunggu dan lihat saja...



KILANG SABUN ORGANIK  Intan 8 - Fri 21/Aug/09, 11:54pm
KAMI MEMBEKAL ANEKA JENIS SABUN ORGANIK HANDMADE, KAMI JUGA MENERIMA TEMPAHAN SEKIRANYA ANDA BERMINAT UNTUK MEMPUNYAI SABUN JENAMA SENDIRI, KELULUSAN DARIPADA KEMENTERIAN KESIHATAN DISEDIAKAN, SAYA TELAH MEMBEKAL RAMAI PENGASAS KOSMETIK PRODUK SABUN KELUARAN MEREKA...

KEPADA ANDA YANG MEMPUNYAI MASALAH KULIT SENSITIF BOLEH MENDAPATKAN SABUN YANG BEBAS KIMIA, HALAL DAN BERKESAN

SABUN YANG KAMI BOLEH BEKALKAN ADALAH SABUN GUNUNG BERAPI, SABUN LUMPUR LAUT MATI, SABUN KOPI, SABUN MUTIARA, SABUN PULUT HITAM, SABUN BERAS, SABUN KAYU MANIS, SABUN SERAI WANGI, SABUN KOKO, SABUN LAVENDER MILK DAN BANYAK LAGI....



Masker lumpur Laut MatiHingga kini begitu banyak tempat yang memanfaatkan kekayaan mineral air Laut Mati. Melalui penelitian dari berbagai ahli di seluruh penjuru dunia selama bertahun-tahun, kini terbukti bahwa mineral lumpur laut air mati boleh menyembukan penyakit eksim, penyakit kulit kronis, pusing, jerawat, rematik, penyakit syaraf, nyeri otot, serta bermanfaat untuk meringankan stres. Selain itu, juga berguna menjaga kecantikan kulit karena bersifat melembapkan, mengangkat sel kulit mati, serta melancarkan aliran nutrisi ke permukaan kulit. Uniknya, lumpur ini juga mengandung zat yang bisa mengurangi lemak.

Garam Mineral

Perawatan dengan lumpur laut mati biasanya diikuti dengan berendam garam laut mati, untuk memaksimalkan perawatan. Garam mineral tersebut berfungsi untuk mengeluarkan toksin dalam tubuh, melembutkan, membersihkan dan menyegarkan kulit. Selain itu, garam mandi juga sering digunakan dalam terapi spa karena efektif mengurangi nyeri otot dan menguraikan otot yang tegang.

Semoga kisah  larangan Rasullulah apabila melalui kawasan kaum yang diazab oleh Allah menjadi iktibar kepada kita. Apabila para sahabat mengambil air dari perigi kaum yang telah diazab Allah,untuk mengadun roti pun di arahkan buang adunan itu (diberikan kepada unta) bermakna mengambil bahan lumpur dari Laut Mati juga adalah dilarang. Namun, semakin banyak pula Produk Lumpur Laut Mati berada dipasaran sekarang ini. Harap halaqian berhati-hati dengan Produk Lumpur Laut Mati ini.

Meninggal apa yang dilarang oleh Rasullulah dan hidup ikut Al-Quran dan As-Sunnah.

سُوۡرَةُ الرُّوم
أَوَلَمۡ يَسِيرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَيَنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۚ ڪَانُوٓاْ أَشَدَّ مِنۡہُمۡ قُوَّةً۬ وَأَثَارُواْ ٱلۡأَرۡضَ وَعَمَرُوهَآ أَڪۡثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَـٰتِ‌ۖ فَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ وَلَـٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَہُمۡ يَظۡلِمُونَ (٩) ثُمَّ كَانَ عَـٰقِبَةَ ٱلَّذِينَ أَسَـٰٓـُٔواْ ٱلسُّوٓأَىٰٓ أَن ڪَذَّبُواْ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ وَكَانُواْ بِہَا يَسۡتَهۡزِءُونَ

Surah Al-Room
Tidakkah mereka telah berjalan dan mengembara di muka bumi, serta memerhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu dari mereka? Orang-orang itu lebih kuat daripada mereka sendiri dan orang-orang itu telah meneroka bumi serta memakmurkannya lebih daripada kemakmuran yang dilakukan oleh mereka dan orang-orang itu juga telah didatangi oleh Rasul-rasulnya dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas nyata (lalu mereka mendustakannya dan kesudahannya mereka dibinasakan). Dengan yang demikian, maka Allah tidak sekali-kali menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri. (9) Sesudah dibinasakan di dunia maka akibat orang-orang yang melakukan kejahatan itu ialah seburuk-buruk azab (di akhirat kelak), disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat keterangan Allah dan sentiasa mempersendakannya. (10) 



Kisah Saudagar di Laut Mati.

Kisah Sejarah:  Kaum Nabi Luth tinggal di kota Sodom yang terletak berhampiran Laut Mati. Di zaman Nabi Luth ini banyak berlaku nya perbuatan homoseksual dan juga lesbian. Sudah penat Nabi Luth mengajak kaum nya bertaubat tetapi tidak diendahkan oleh mereka akan Nabi Luth. Sehingga lah Nabi Luth berputus asa dan berdoa kepada Allah agar diturunkan balasan terhadap kaum nya. Allah telah menterbalikkan kota Sodom dan tenggelam lah kota Sodom di Laut Mati. Laut Mati ini telah dilaknat oleh Allah sehinggakan tiada ikan yang mampu hidup di Laut Mati.


Perlu diambil tahu  dari mana asal perkatan sodom ni. Dari kota Sodom la. Sodomy = Liwat. Sekian...

Wednesday, 30 December 2009

Hijrah Rasullullah


Kita sememangnya wajib bersyukur kepada Allah SWT Yang telah memberikan banyak keni'matan kepada kita. Yang seandainya kita diminta menghitungnya, pastinya kita tak akan mampu melakukannya. Dan, keni'matan yang terbesar yang diberikan kepada kita, iaitu Islam.

Dan kewujudan kita sebagai orang yang beragama Islam. Sebab, ramai orang yang diberi keni'matan hidup, tetapi tidak semuanya mahu memeluk Islam. Tetapi, keni'matan yang lebih besar lagi, yang diberikan kepada kita ialah wujudnya dakwah Islam dan orang-orang yang memikulnya, sehinggalah Islam ini sampai kepada kita.

Dua perkara inilah yang tidak semestinya kita lupakan. Iaitu, dakwah Islam dan orang-orang yang memikulnya, sehinggalah Islam itu sampai kepada kita.

Oleh itu, sangat munasabah apabila Hijrah baginda Rasulullah SAW diperingati sebagai suatu peristiwa sejarah yang paling penting dalam kehidupan dakwah rasulullah SAW. Yang di sini, kita peringati setiap tahunnya dengan nama "Maal Hijrah". Mengapa peristiwa Hijrah baginda Rasulullah SAW ini merupakan peristiwa yang sangat penting?

Pertama, dakwah Rasulullah SAW apabila masih berada di Makkah, telah melalui masa-masa yang sangat sulit. Terutama setelah RAsulullah SAW diperintahkan Allah untuk menyampaikan Islam secara terbuka kepada masyarakat Makkah, dan menunjukkan bahawa baginda tidak bersendirian, melainkan ada jamaah yang menyertainya, setelah Allah menurunkan surah al-Hijr:94:

"Maka sampaikanlah secara terbuka apa yang diperintahkan kepada kamu, dan tentanglah orang-orang musyrik itu."

Setelah ayat ini turun, tepatnya setelah Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Muthallib memeluk Islam, maka Rasulullah SAW memulakan dakwah secara terbuka. Baginda, kemudian melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah, yang diikuti oleh para sahabat. Sejak itu, para sahabat dan pengikut baginda, termasuklah baginda sendiri, setiap hari menerima penyiksaan daripada penguasa Makkah, dan orang-orang kafir Quraisy.

Pernah baginda sedang shalat berhampiran Ka'bah, leher baginda diikat oleh Uqbah bin Abi Mu'ait, sehingga baginda tidak dapat bernafas, sampai akhirnya baginda ditolong oleh Abu Bakar. Pada masa yang lain, apabila baginda sedang shalat, tengkuk leher baginda dipukul oleh Uqbah bin Mu'ait, sehingga baginda pengsan, dan akhirnya ditolong oleh Fatimah. Puteri baginda itu menangis, sedih, melihat nasib ayahanda tercintanya dianiaya oleh orang-orang kafir. Bukan baginda sahaja yang mengalami nasib buruk seperti itu, malahan keluarga Yasir telah disiksa, sehinggalah Sumayyah meninggal dunia sebagai syahidah pertama.

Setelah penganiayaan secara fizikal tidak mampu menggoyahkan keteguhan para pemikul da'wah ini, maka orang-orang kafir itu telah merancang untuk mengasingkan baginda SAW dan para pengikutnya. Maka, terjadilah rancangan jahat itu selama lebih kurang 3 tahun. Baginda dan para sahabat hidup di sebuah lembah dalam keadaan kekurangan makanan, pakaian, pekerjaan, rumah dan diusir dari Makkah. Dan setelah itulah, baginda meminta para sahabat untuk meninggalkan Makkah menuju ke Habbasyah (Ethiopia-Afrika) untuk mencari perlindungan kepada Raja Najasyi, dengan maksud untuk mempertahankan agama mereka dari serangan secara berterusan yang dilakukan oleh orang-orang kafir.

Maka, orang-orang kafir juga tidak mahu tinggal diam, sehinggalah mereka menyampaikan maklumat-maklumat yang mengelirukan di luar negeri, untuk mengusir kembali kaum muslimin yang berhijrah ke sana. Orang-orang kafir tersebut berusaha untuk mengadu domba Raja Najasyi dengan kaum muslimin, yang akhirnya tidak berjaya.

Sedangkan baginda Rasulullah SAW dan beberapa sahabat masih duduk di Makkah. Justeru menjadikan tindakan orang-orang kafir semakin biadab kepada baginda SAW. Sehingga baginda berfikir untuk mencari perlindungan, kerana dakwah Islam tidak mungkin lagi disebarkan kepada orang-orang Makkah. baginda pada masa itu cuba berhijrah ke Taif, untuk mencari perlindungan kepada Bani Tsaqif, yang akhirnya malah baginda diusir dengan cara tidak sopan. Baginda dilempari dengan batu dan kotoran, sehingga tubuh baginda berlumuran darah dan kotor. Sehinggakan Zaed bin Haritsah menangis, melihatkan keadaan baginda yang sangat menyedihkan itu.

Baginda, mencuba untuk masuk kembali ke Makkah, meskipun baginda tahu bahawa baginda akan dibunuh, apabila berada disana. Maka, baginda berusaha mencari perlindungan kepada Mut'im bin Adi, salah seorang tokoh pemuda Makkah. Dan beliau sanggup melindungi keselamatan baginda SAW dan dakwah baginda. Sejak itulah, baginda berada dalam perlindungan Mut'im bin Adi.

Sejak itu, baginda selalu mendatangi kabilah-kabilah yang datang ke Makkah untuk menyampaikan dakwah Islam yang baginda bawa. Meskipun risikonya sudah jelas sekali bagi baginda, sebagaimana sumpah baginda: "Demi Allah, seandainya mereka boleh meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku tetap tidak akan meninggalkan urusan dakwah ini, sehingga ia dimenangkan Allah, atau aku dibinasakan dalam usaha untuk menuntutnya."

Maka, baginda SAW, tetap tidak takut, dan terus-menerus berdakwah, meskipun pada masa itu tidak satu kabilah pun yang menerima. Pernah baginda menyampaikan dakwah ini kepada kabilah Amru bin Sa'sa'ah, yang pada awalnya bersedia menerima seruan dakwah Rasulullah SAW, namun dengan syarat bahawa kepemimpinan setelah baginda mestilah diserahkan kepada kabilah Amru bin Sa'sa'ah, namun hal ini dijawab dengan tegas oleh baginda: "Sesungguhnya perkara (kekuasaan kepemimpinan) ini merupakan hak Allah, yang akan Dia serahkan kepada sesiapa sahaja yang Dia kehendaki."

Setelah jawapan itu disampaikan oleh Rasulullah, baginda langsung diusir dari khemah kabilah Amru bin Sa'sa'ah. Inilah keadaan dakwah dan keteguhan baginda dan para sahabat dalam menyampaikan dakwah Islam. Setelah semuanya itu, Allah memberikan pertolongan dengan dipertemukannya baginda saw. dengan orang-orang Aus dan Hazraj yang datang untuk berhaji ke Makkah. Maka, apabila mereka mendengarkan seruan Rasul untuk mengimaninya, mereka langsung menerimanya, dan setelah itulah terjadi Bai'at Aqabah I, yang dilakukan di bukit Aqabah. Dan ini merupakan titik awal perkembangan dakwah Rasulullah saw. yang pertama, sehinggalah dakwah Islam ini sampai ke Yasrib,
(nama Madinah sebelum dirubah oleh baginda saw).

Setelah rombongan Aus dan Hazraj kembali ke Madinah, mereka meminta Nabi saw. untuk mengirimkan orang agar mengajarkan Islam kepada mereka di sana. Ketika itulah, baginda mengirim Mus'ab bin Umair. Salah seorang sahabat Rasulullah, yang sebelumnya merupakan pemuda yang kaya raya, tetapi lebih memilih hidup sederhana bersama Rasulullah. Mus'ab lah yang menyampaikan pelajaran Al-Qu'an kepada penduduk Madinah, sehingga beliau mendapat gelaran sebagai Muqriul Madinah.

Dan ternyatalah dakwah Islam yang disampaikan oleh Mus'ab dan orang-orang Aus dan Hazraj yang telah memeluk Islam itu berjaya merubah public opinion penduduk Madinah, sehinggalah semua orang memperkatakan tentang Islam. Akhirnya, bilangan orang yang menyertai Islam menjadi semakin ramai, sehingga mereka mula melaksanakan solat Jumaah yang pertama kalinya di sana.

Berita ramainya penduduk Madinah yang menyertai Islam ini telah menyenangkan hati Rasulullah saw. dan para sahabat yang masih menyertai baginda di Makkah. Dan untuk membuktikan kesiapan Madinah sebagai pusat tegaknya dan pengembangan Islam, maka baginda meminta Mus'ab untuk mengirimkan mereka ke Makkah. Maka, berangkatlah pada musim haji berikutnya, seramai 75 orang. 73 orang terdiri daripada lelaki, dan 3 orang lainnya adalah perempuan. Mereka kemudian sampai di Makkah dan bertemu langsung dengan Nabi, menyatakan sumpah setia yang dikenal dengan Bai'at Aqabah II. Bai'at ini juga dikenal sebagai sumpah setia untuk hidup dan mati demi Islam. Yang juga merupakan penyerahan kekuasaan orang-orang Madinah kepada Nabi untuk menjadi Ketua Negara Islam. Dan inilah yang mendorong baginda untuk berhijrah ke Madinah.

Kedua, hijrah Rasulullah saw. ke Madinah bukan untuk melarikan diri, atau menyelamatkan diri dari ancaman orang-orang kafir. Tetapi untuk menegakkan Islam, sehingga Islam ini menjadi agama dan ideologi yang boleh disebarkan ke seluruh dunia, untuk menyelamatkan dunia daripada kehancuran. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah SWT. dalam surat At-Taubah: 33 /Al-Fath: 28 /As-Shaf: 9.

"Dialah Yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang haq, agar Dia memenangkan agamanya, keatas agama-agama yang lainnya."

Maka, tanpa hijrahnya Rasulullah ke Madinah, Islam tidak akan pernah sampai kepada kita di Malaysia. Sebab, tidak pernah wujud negara Islam yang menyebarkan dakwah ke seluruh dunia. Tetapi dengan hijrahnya baginda saw. ke Madinah, maka sejak masa itulah negara Islam berdiri untuk yang pertama kalinya di Madinah, dan sejak itulah Islam disebarkan dengan dakwah dan jihad ke seluruh dunia. Sehinggalah Islam berkembang dengan cepatnya ke seluruh dunia, yang dimulakan dengan penaklukan wilayah Hejaz (622-632 M.) semasa baginda saw. kemudian secara berterusan, wilayah Syam di taklukkan semasa Umar bin Khattab. Sehinggalah Islam masuk Eropah, setelah beberapa wilayahnya ditaklukkan pada tahun 696-705 M. pada masa Khilafah Ummayah. Pada masa yang sama, Islam juga telah sampai di Russia. Dan pada tahun 712, Islam telah sampai di Asia Tenggara.

Tetapi memandangkan pentingnya peristiwa Hijrah Rasulullah saw. ini, maka sememangnya peristiwa ini bukan sekadar menjadi peringatan, melainkan lebih daripada itu. Peristiwa Hijrah tersebut, justeru wajib dijadikan pelajaran, bahawa Islam menjadi agama kita, dan sampai kepada kita bukan merupakan peristiwa kecil, tetapi merupakan peristiwa besar. Kalau bukan kerana pengorbanan Rasul dan para sahabat yang tidak kecil itu, pastilah Islam ini tidak akan sampai ke hari ini. Dan kalau bukan kerana wujudnya orang-orang yang sanggup hidup dan mati demi Islam ini, tentulah Islam ini tidak sampai ke hari ini. Dan kalau bukan kerana wujudnya orang-orang yang rela mengorbankan harta, keluarga dan nyawa mereka, pastinya Islam tidak akan wujud hingga ke hari ini.

Dan oleh itu, kita semua berhutang kepada mereka. Dan kita tidak dapat membayarnya, sebab mereka bukan meminta ganjaran daripada kita. Tetapi, mereka menegakkan Islam dengan seluruh pengorbanan mereka, kerana mereka telah menjual diri mereka kepada Allah, yang jiwa, harta dan semua yang mereka korbankan itu telah dibeli oleh Allah dengan syurga-Nya.

"Sesungguhnya Allah telah membeli daripada orang-orang yang beriman itu, diri dan harta mereka, bahawa mereka akan diberi (imbalan) syurga." (Q.s. At-Taubah: 111).

Saat ini , ketika ini Islam telah kehilangan generasi terbaiknya yang sanggup menjual diri, harta dan nyawanya kepada Allah untuk mendapatkan syurga-Nya, dengan menegakkan Islam. Dan inilah yang menyebabkan hilangnya cahaya petunjuk Islam, setelah runtuhya Khilafah Islamiyah, Turki Othmaniyah, pada 3 Mac 1924. Setelah itu, negeri kaum muslimin berterusan mengalami musibah.


Islam ketika ini memerlukan generasi yang sanggup mengorbankan diri, harta serta nyawa mereka untuk menegakkannya. Kerana sekiranya tanpa itu, Islam mustahil kembali berjaya diperingkat antara bangsa, seperti pada masa baginda dan para sahabat hingga 13 abad kemudian. Maka, semuanya terpulang kepada keimanan dan ketaqwaan kita semua. Tetapi yang wajib diyakini, bahawa syurga dan neraka itu adalah abadi. Syurga merupakan puncak keni'matan yang tidak diberikan secara percuma oleh Allah kepada manusia. Kerana itu, semakin tinggi pengorbanan kita, maka semakin besar keni'matan kita di akhirat kelak. Dan sebaliknya. Akhir kata semoga kita termasuk diantara orang-orang yang sanggup memberikan pengorbanan yang tertinggi demi Islam, semata untuk mencari ridha Allah dan syurga-Nya.

Wallahu a'lam.

Sumber 

Hari Asyura (10 Muharram)




Dari Aisyah r.a. katanya "Biasanya orang Quraisy pada masa jahiliah berpuasa pada hari asyura dan Nabi s.a.w. pun berpuasa. Ketika Baginda tiba di Madinah, Baginda juga berpuasa pada hari asyura dan menyuruh orang lain berpuasa juga". (Sahih Muslim)

Dari Salamah bin Akwa r.a. dia menceritakan bahawa Rasulullah s.a.w. mengutus seorang lelaki suku Aslam pada hari Asyura dan memerintahkan kepadanya supaya mengumumkan kepada orang ramai, "Sesiapa yang belum puasa hari ini hendaklahlah dia berpuasa dan siapa yang telah terlanjur makan hendaklahlah dia puasa juga sejak mendengar pemgumuman ini sampai malam". (Sahih Muslim)

Dari Ibnu Abbas r.a katanya, " Penduduk Khaibar berpuasa pada hari asyura dan menjadikannya sebagai hari raya, dimana wanita mereka memakai perhiasan dan pakaian yang indah pada hari itu. Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda, "Puasalah kamu pada hari itu". (Sahih Muslim)

Dari Ibnu Abbas r.a. katanya, ketika Nabi s.a.w. tiba di Madinah, Baginda melihat orang yahudi berpuasa pada hari asyura. Nabi pun bertanya, "Hari apa ini ?". Jawab mereka, "Hari ini ialah hari yang baik. Pada hari ini Allah melepaskan Bani Israil dari musuh mereka, kerana itu Nabi Musa berpuasa kerananya". Sabda Nabi, "Aku lebih berhak daripada kamu dengan Musa". Oleh itu Nabi berpuasa dan menyuruh orang lain berpuasa pada hari asyura. (Sahih Bukhari)

Dari Abu Qatadah Al-Anshari r.a. katanya Rasulullah s.a.w. ditanya orang tentang puasa hari arafah (9 Zulhijjah). Jawab baginda, "Semoga dapat menghapus dosa tahun yang lalu dan yang akan datang". Kemudian Nabi ditanya pula tentang puasa hari asyura (10 Muharram). Jawab baginda, "semoga dapat menghapus dosa tahun yang lalu". (Sahih Muslim)

Imam Syafi`e Rahimahullahu Ta`ala menyebutkan di dalam Kitab Al-Umm dan Al-Imla' disunatkan berpuasa tiga hari iaitu hari kesembilan (Tasu`a'), kesepuluh (`Asyura') dan kesebelas bulan Muharram. Tetapi tidak ditegah jika berpuasa hanya pada 10 Muharram sahaja.

Friday, 18 December 2009

Peristiwa Hijrah

Peristiwa Hijrah: Bukti Kejujuran dengan Allah s.w.t.


Ketika umat Islam menyambut kedatangan tahun baru Hijrah, mereka tidak dapat memisahkan diri daripada sejarah. Ini kerana, kehadiran tahun baru Hijrah sebenarnya adalah kehadiran semula memori umat Islam terhadap suatu “simbol” kejujuran generasi awal Muslimin dengan Tuhan Semesta Alam.

Sesungguhnya, dengan menjadikan ukuran peristiwa Hijrah sebagai suatu ukuran dalam Takwim umat Islam mempunyai suatu rahsia yang sangat agung. Ini kerana, keagungan dan kegemilangan umat Islam sehingga hari ini sememangnya berasaskan “kejujuran” generasi awal Muslimin yang dipimpin oleh semulia-mulia manusia (bahkan seagung-agung makhluk) iaitulah Saidina Rasulullah s.a.w..

Hijrah bukan sekadar suatu peristiwa perpindahan, kerana perpindahan itu adalah lumrah kehidupan. Sebelum peristiwa Hijrah Agung ini, umat manusia tidak sunyi dari perpindahan dari satu tempat ke satu tempat. Bahkan, setelah peristiwa Hijrah Agung ini juga, tradisi perpindahan dari suatu tempat ke suatu tempat menjadi amalan umat manusia. Maka, di manakah kemuliaan dan keagungan Hijrah Rasulullah s.a.w. dan para sahabat r.a. ini, sedangkan perpindahan itu sememangnya suatu lumrah bagi sebahagian manusia?

Keagungan Hijrah Rasulullah s.a.w. dan para sahabat r.a. adalah pada “tujuan” Hijrah mereka, bukan pada zahir perpindahan mereka semata-mata. Ini kerana, perpindahan dari suatu tempat ke suatu tempat adalah suatu tradisi umat manusia sejak zaman berzaman. Namun, suatu “perpindahan” bertujuan untuk memilih Allah s.w.t. daripada selain Allah adalah suatu nilai yang paling agung, dalam membuktikan kejujuran seseorang kepada Allah s.w.t..

Hadith Niat

Ketika kita membaca kitab-kitab hadith, kita dapati antara hadith yang disebut di awal kitab adalah suatu hadith yang mashyur iaitulah hadith niat. Hadith niat ini sebenarnya adalah isyarat yang jelas menunjukkan kemuliaan Hijrah Rasulullah s.a.w. dan para sahabat r.a. dari Makkah ke Madinah adalah pada “niat” dan “tujuan” hijrah mereka, iaitulah kerana Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w..

Rasulullah s.a.w. bersabda:

إنما الأعمال بالنيّات ، وإنما لكل امريء مانوى ، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله ، فهجرته إلى الله ورسوله ، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها ، أو امرأة ينكحها ، فهجرته إلى ما هاجر إليه

Maksudnya:
“Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niat, dan bahawa sesungguhnya bagi setiap orang itu, apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada (kerana) Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang hijrahnya kerana dunia yang dia mahu mencari habuannya, atau kerana seorang perempuan yang dia mahu kahwininya, maka hijrahnya ke arah perkara yang ditujuinya itu”. [Hadith riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim]

Imam Abu Daud berkata:

“Sesungguhnya hadith ini iaitu hadith bahawasanya segala amalan itu adalah dengan niat adalah separuh daripada Islam, kerana ad-din itu dua perkara, sama ada ianya perkara zahir iaitu amalan ataupun yang batin iaitu niat”.

Sementara Imam Ahmad dan Imam Syafie pula berkata:

“Di dalam hadith ini (iaitu hadith “Bahawasanya segala amalan itu adalah dengan niat”) mengandungi satu pertiga ilmu. Sebabnya ialah kerana usaha seseorang itu adalah sama ada dengan hati, lidah atau anggota tubuh badannya. Maka niat dengan hati adalah salah satu daripada tiga pembahagian tersebut.”

Biar para ulama’ mengeluarkan pelbagai kaedah dan ilmu daripada hadith yang agung ini, namun isyarat keagungan para sahabat r.a. khususnya para Muhajirin dalam hadith tersebut tetap tidak dapat dinafikan. Hadith ini terlalu agung dan mengandungi rahsia kejujuran para sahabat r.a. yang sanggup meninggalkan tanah air dan kediaman mereka, lalu meninggalkan harta dan keluarga mereka, hanya kerana Allah s.w.t. dan Rasul-Nya.

Hijrah dari sudut bahasa bermaksud meninggalkan. Bahkan, ianya juga bermaksud, perpindahan. Namun, kemuliaan hijrah bukan pada tindakan “meninggalkan” atau “perpindahan” semata-mata, tetapi makna dan tujuan di sebalik tindakan tersebut.

Oleh kerana itulah, dalam hadith ini, Rasulullah s.a.w. mengingatkan betapa seseorang yang berhijrah bukan kerana Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, ianya tidak diterima oleh Allah s.w.t., biarpun secara zahirnya, dia menyertai hijrah bersama para Muhajirin. Namun, di sisi Allah s.w.t., dia tidak bersama-sama dengan para Muhajirin, tetapi dia menuju kepada apa yang diingininya, iaitulah selain dari Allah s.w.t..

Alangkah rugi dan malangnya seseorang yang melakukan sesuatu ketaatan dan ibadah, namun di sisi Allah s.w.t., ketaatan dan ibadahnya tidak diterima oleh Allah s.w.t.. Apatah lagi ibadah yang sukar dilakukan seperti berhijrah yang memerlukan tenaga dan masa yang banyak sehingga ada yang gugur di tengah-tengah perjalanan. Ibadah yang sukar dilakukan pun, andai dilakukan bukan kerana Allah s.w.t., maka ianya tetap tidak diterima oleh Allah s.w.t.. Maka, alangkah ruginya sebuah zahir ibadah tanpa kejujuran dalam kehambaan kepada Allah s.w.t..

Bayangkan, kita yang melakukan ibadah kepada Allah s.w.t. saban hari, pernahkan terfikir apakah tujuan di sebalik ibadah yang dilakukan? Adakah ianya benar-benar kerana Allah s.w.t.?

Adakah kita sanggup memilih untuk mengutamakan Allah s.w.t. daripada selain Allah s.w.t. dalam kehidupan kita? Adakah kita sanggup meninggalkan apa yang kita suka dan apa yang kita sayang demi menuju kepada apa yang Allah s.w.t. cintai dan kerana mengharapkan hanya cintaNya? Pernahkah kita memilih sesuatu kerana Allah dengan mengorbankan keinginan kepada selain Allah s.w.t.?

Demi Allah, para sahabat r.a. dari kalangan Muhajirin yang dipimpin oleh Saiyyidul Muhajirin, Rasulullah s.a.w., sudah membuktikan kejujuran mereka kepada Allah s.w.t.. Mereka adalah manusia yang mana “tindakan” mereka menjadi saksi kejujuran mereka, berbanding dakwa dengan lisan semata-mata. Kalau kejujuran itu diukur dengan lisan semata-mata, di mana bezanya antara para munafiqin dengan para siddiqin kerana para munafiqin lebih banyak mengaku jujur dan cinta, sedangkan di hati mereka hanyalah seribu satu dusta.

Merekalah Orang-orang yang Jujur

Allah s.w.t. berfirman:

لِلْفُقَرَآءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُواْ مِن دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنصُرُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـٰئِكَ هُمُ ٱلصَّادِقُونَ

Maksudnya:

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari kurnia dari Allah dan keredhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar”. [Surah Al-Hasyr: 8]

Lihatlah bagaimana Allah s.w.t. melahirkan rasa kasihNya yang agung kepada para Muhajirin yang diusir oleh kaum dan bangsa mereka sendiri, bahkan ahli keluarga mereka yang terdekat sendiri. Tidaklah mereka diusir melainkan kerana keimanan mereka kepada Allah s.w.t. dan kecintaan mereka kepadaNya.

Imam Ibn Ajibah menjelaskan bahawa, Allah s.w.t. menggunakan perkataan “Al-Fuqara’” bagi menggambarkan keadaan orang-orang Muhajirin pada ketika itu adalah kerana orang-orang kafir sudah menguasai harta benda mereka di Makkah. Maka, tekanan yang dihadapi oleh orang-orang Islam Makkah pada ketika itu dihadapi demi cinta mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

Bahkan, Allah s.w.t. menggambarkan niat agung para muhajirin yang bersusah-payah dalam Hijrah semata-mata kerana:

·         Mengharapkan hanya kurnia dari Allah s.w.t..
·         Mengharapkan hanya keredhaan Allah s.w.t..
·         Ingin membela agama Allah s.w.t..

Tiada “tujuan” sesuatu ibadah dan amalan yang lebih mulia daripada niat dan tujuan yang tersemat di hati para muhajirin sebagaimana yang digambarkan sendiri oleh Allah s.w.t.. Inilah setinggi-tinggi keikhlasan dan kejujuran seseorang dalam kehambaannya kepada Allah s.w.t..

Bahkan, Allah s.w.t. sendiri menjadi saksi “kejujuran” mereka terhadap Allah s.w.t.. Allah… Tiada penyaksian dan perakuan yang lebih benar dan lebih berharga berbanding penyaksian dan perakuan daripada Allah s.w.t.. Para Muhajirin ini diakui sendiri oleh Tuhan semesta alam, betapa mereka adalah orang-orang yang jujur.

Allah s.w.t. berfirman sebagaimana di hujung ayat tersebut:

“…Mereka itulah orang-orang yang benar (jujur)”

Imam At-Tabari meriwayatkan tafsiran ayat ini daripada Imam Qatadah r.a. bahawa Imam Qatadah r.a. berkata:

هؤلاء المهاجرون تركوا الديار والأموال والأهلين…خرجوا حباً لله ولرسوله، واختاروا الإسلام على ما فيه من الشدّة، حتى لقد ذكر لنا أن الرجل كان يعصب الحجر على بطنه ليقيم به صلبه من الجوع،

Maksudnya:

“Merekalah orang-orang Muhajirun yang meninggalkan rumah-rumah, harta-harta, ahli keluarga dan sebagainya… Mereka keluar (dari Makkah) kerana cinta mereka kepada Allah dan Rasul-Nya s.a.w., kerana mereka telah memilih Islam dan sanggup menanggung kesusahan kerana pilihan tersebut, sehinggakan telah disebutkan kepada kami bahawa ada seorang lelaki (yang berhijrah) sanggup meletakkan batu di perutnya agar dapat menahan daripada lapar…” [Tafsir At-Tabari]

Kejujuran Dibalas Kejujuran

Ketika orang-orang Muhajirin merealisasikan kejujuran mereka dalam kehambaan kepada Allah s.w.t. dan membuktikan kejujuran mereka dengan sanggup meninggalkan selain Allah hanya kerana Allah s.w.t., maka Allah membalasi mereka dengan suatu golongan yang jujur dalam membantu mereka.

Mereka adalah Al-Anshar, penghuni asal Al-Madinah Al-Munawwarah yang melahirkan kesetiaan mereka kepada Allah s.w.t. dan Rasul-Nya s.a.w.. Apabila golongan Muhajirin jujur dalam kehambaan mereka, Allah s.w.t. menjadikan golongan yang membantu mereka juga jujur dalam membantu mereka.

Inilah keagungan ukhuwwah Islamiyyah yang mempengaruhi secara dalaman melalui Qudwah Hasanah (contoh yang baik). Rasulullah s.a.w. jujur dalam hubungan Baginda s.a.w. dengan Allah s.w.t., akhirnya kejujuran Rasulullah s.a.w. terhadap Allah s.w.t. dicontohi oleh para sahabat r.a. dari kalangan penduduk Makkah. Mereka mencontohi kejujuran daripada insan yang paling jujur dalam hubungan dengan Allah s.w.t..

Setelah itu, para sahabat r.a. yang jujur ini berhijrah ke Madinah dalam rangka membuktikan kejujuran mereka kepada Allah s.w.t., lalu menjadi contoh kepada golongan Anshar. Lalu, golongan Anshar pula belajar kejujuran dari golongan muhajirin lalu mereka juga jujur dalam membantu golongan Muhajirin.

Kejujuran golongan Anshar turut diabadikan dalam Al-Qur’an, pada ayat seterusnya dalam surah yang sama, dalam firman Allah s.w.t.:

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُوا ٱلدَّارَ وَٱلإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلاَ يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَـٰئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Maksudnya:

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kebakhilan dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung” [Surah Al-Hasyr: 9]

Allah s.w.t. menjadi saksi kejujuran golongan Anshar dalam membantu Rasulullah s.a.w. dan golongan Muhajirin lalu menyebutkannya dalam Al-Qur’an agar umat Islam sepanjang zaman mengenang “kejujuran” ini, dan “kejujuran” golongan Muhajirin serta kejujuran Saidina Rasulullah s.a.w. terhadap Allah s.w.t..

Lihatlah, bilamana Rasulullah s.a.w. mengutamakan Allah s.w.t. berbanding keinginan dan keselesaan diri, maka Allah s.w.t. menjadikan suatu golongan pengikut (sahabat) dari kalangan Muhajirin yang setia dan mengutamakan Baginda s.a.w. berbanding diri mereka sendiri.

Bilamana pula golongan Muhajirin mengutamakan Allah s.w.t. dan Rasul-Nya berbanding diri mereka sendiri, bukti kejujuran mereka kepada Allah s.w.t. dan Rasul-Nya s.a.w., maka Allah s.w.t. menjadikan suatu golongan pembantu yang mengutamakan mereka (Muhajirin) berbanding diri mereka sendiri. Hal ini digambarkan sendiri oleh Allah s.w.t. sebagaimana firmanNya:

“…dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan…” [Surah Al-Hasyr: 9]

Allah… Ukhuwwah Islamiyyah ini terlalu indah. Allah s.w.t. mengajar erti cinta dari mereka yang jujur dalam kecintaan kerana Allah s.w.t.. Kejujuran itu adalah harta paling berharga kerana harga cinta adalah kejujuran dalam cinta. Oleh kerana itulah, setelah para sahabat r.a. membuktikan kejujuran mereka kepada Allah s.w.t. dengan mengutamakan Allah s.w.t. di atas kepentingan diri mereka, maka Allah s.w.t. menjadi saksi betapa mereka layak dicintai dan diredhai oleh Allah s.w.t..

Kejujuran dibalasi Redha

Allah s.w.t. berfirman:

قَالَ ٱللَّهُ هَـٰذَا يَوْمُ يَنفَعُ ٱلصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا ٱلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَداً رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ ذٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

Maksudnya:

Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang jujur akan kejujuran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah redha kepada mereka dan mereka redha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. [Surah Al-Ma’idah: 119]

Nilai redha Allah s.w.t. itu adalah keberuntungan yang paling besar. Bayarannya adalah kejujuran dalam kehambaan kepadaNya. Namun, kejujuran itu bukan semudah mengungkapkannya. Orang-orang munafiq adalah pengaku terhebat dalam bab kecintaan dan mengaku memiliki kejujuran. Mereka tidak lain melainkan menipu diri mereka sendiri sedang mereka sendiri tidak mengetahuinya.

Ya Allah, dengan keberkatan hari yang mulia ini, dan keberkatan Saidina Rasulillah s.a.w. serta para sahabat r.a. yang jujur dalam kehambaan mereka, kurniakanlah kami kejujuran dalam kehambaan kepadaMu, agar kami dapat bersama-sama dengan para Sadiqin dan Siddiqin, dan mendapat redhaMu yang menjadi harapan tertinggi kami…

Amiin…

Wallahu a’lam…

Al-Faqir Al-Haqir ila Rabbihi Al-Jalil 

‘Amalahullahu bi LutfiHi Al-Khafiyy

 1 Muharram 1431 Hijrah

Sunday, 29 November 2009

Aidiladha singkap pengorbanan 3 insan agung

HARI Raya Haji atau Korban mempunyai banyak keistimewaan yang harus diperbesarkan oleh umat Islam, bagi mengingati semula serta mengambil iktibar pengorbanan tiga manusia agung iaitu Nabi Ibrahim; isterinya, Hajar dan Nabi Ismail yang wajar dicontohi.

Nabi Ibrahim berjiwa kental dan mempunyai cita-cita unggul serta ketakwaan yang tinggi kepada Allah, Hajar pula solehah yang bertakwa kepada Allah sekali gus sebagai ibu penyayang yang mempunyai kesabaran luar biasa dan Nabi Ismail, sebagai anak salih berjiwa takwa, tawakal dan sanggup disembelih bapanya demi menjunjung titah perintah Allah.

Keistimewaan inilah yang harus diperbesarkan dan dijadikan teladan segenap lapisan masyarakat terutama ibu bapa, pemimpin dan juga remaja. Semangat dan ketabahan ini haruslah dijadikan landasan dalam kehidupan bagi membina sahsiah diri, kekuatan mental dan fizikal serta kesabaran dalam menghadapi ujian dan dugaan Allah.

Sesungguhnya jasa dan pengorbanan Nabi Ibrahim, sangat besar dalam menegakkan agama Allah dan membangunkan Makkah sebagai Kota Suci umat Islam yang amat penting.

Mengenai Kota Makkah, Allah berfirman maksudnya, “Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) makam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajipan manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadat haji ke Baitullah, iaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajipan) haji, maka ketahuilah bahawa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (Ali Imran:97).

Daripada ayat ini jelaslah bahawa pembangunan Kota Suci Makkah banyak membawa kebaikan dan manfaat kepada umat Islam. Selain ia menjadi arah kiblat ke Baitullah, kota ini juga menjadi tumpuan jutaan umat Islam untuk menunaikan haji setiap tahun. Ini dijelaskan dalam ayat sebelumnya melalui firman-Nya bermaksud: “Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangunkan untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makah) yang mempunyai berkat dan menjadi petunjuk seluruh alam.” (Ali Imran: 96)

Selain itu, Hari Raya Korban wajar diperbesarkan demi mengingati betapa penderitaan dan kesusahan yang dialami oleh Nabi Ibrahim, dalam usaha menegakkan agama Allah dan membangunkan Makkah. Baginda Nabi Ibrahim disenaraikan sebagai salah seorang Rasul yang bergelar ‘Ulul Azmi yang memiliki kesabaran dan ketabahan luar biasa, sanggup menanggung seribu satu macam kesusahan dan penderitaan serta cabaran semata-mata untuk mencari keredaan Allah.

Membesarkan Hari Raya Korban dengan pelaksanaan ibadat korban yang dilakukan semata-mata kerana Allah pada Hari Raya Haji dan hari-hari Tasyrik (11,12, dan 13 Zulhijjah).

Ibadat korban dapat mengeratkan hubungan silaturahim antara ahli kariah masjid. Peserta yang melakukan ibadat korban melalui daging korban dapat dibahagi-bahagikan kepada golongan fakir miskin dan ahli kariah masjid. Ini akan menimbulkan rasa keinsafan dalam diri untuk terus membantu golongan yang kurang bernasib baik.

Selain itu, ibadat ini dapat mengukuhkan pertalian dan kasih sayang di kalangan keluarga dan ahli masyarakat yang berkumpul melaksanakan ibadat korban melalui kerja menyembelih, melapah, menyiang daging dan kemudian makan bersama-sama daging korban dimasak.

Ini juga dapat melahirkan rasa kegembiraan dan kesyukuran dengan melaksanakan perintah Allah. Ingatlah firman Allah s.w.t. bermaksud: “Dan (ingatlah) tatkala Tuhan kamu memberitahu: Demi sesungguhnya jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambah nikmat-Ku kepada kamu, dan demi sesungguhnya jika kamu kufur ingkar, sesungguhnya azab-Ku amatlah berat.” (Ibrahim:70).

Hari Raya Korban hendaklah diperbesarkan dengan sewajarnya, dengan mengucapkan takbir secara berterusan pada malam hari raya hingga solat sunat didirikan pada esok harinya. Pada Aidilfitri disunatkan menjamah makanan atau juadah sebelum ke masjid tetapi untuk Hari Raya Korban kita tidak disunatkan berbuat demikian. Sebaliknya disunatkan pergi ke surau atau masjid lebih awal untuk menunaikan solat sunat Aidiladha dan mendengar khutbah yang menyentuh antara lain kisah pengorbanan Nabi Ibrahim yang boleh dijadikan panduan dalam kehidupan umat Islam.

Sebaik selesai solat sunat Aidiladha, maka bersegeralah menyembelih binatang korban. Kemudian dagingnya disedekahkan kepada fakir miskin dan sebahagiannya juga diberikan kepada kariah masjid sebagai hadiah. Nabi SAW bersabda bermaksud: “Barang siapa dibukakan baginya pintu kebaikan (rezeki) hendaklah memanfaatkan kesempatan itu (untuk berbuat baik) sebab dia tidak mengetahui bila pintu itu akan ditutup baginya.” (Riwayat Asy Syihaab).

Artikel dari : http://epondok.wordpress.com/